Thursday, May 31, 2018

SINDI SH.
Kepala Dinas DIKBUD Kabupaten Tebo. 
TEBOONLINE.COM - Setelah mendapat persetujuan dari Bupati Tebo, akhirnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Tebo akan melakukan Merger sekolah pada tahun ajaran baru 2018/2019. Hal tersebut langsung disampaikan Kadis Pendidikan dan Kebudayaan, Sindi. 

"Kemarin kita sudah komunikasi dan Hearing dengan komisi 1 DPRD Kabupaten Tebo, dari hasil hearing tersebut Merger sekolah disepakati akan tetap dilaksanakan," jelas Sindi.

Sindi juga menerangkan bahwa untuk tahap awal ini pihaknya akan membuat sekolah dasar (SD,red) percontohan di 3 kecamatan yaitu di Kecamatan Rimbo Bujang, Rimbo Ulu dan Rimbo Ilir.

"Setelah di Merger nanti kita akan lihat untung ruginya seperti apa, 6 bulan kemudian teman teman dari sekolah lain akan kita ajak melihat sekolah percontohan tersebut," jelas Sindi lagi.

"Jika hasilnya positif akan kita lanjutkan," timpal Kadis.

Untuk diketahui bahwa sebelumnya pihak Dikbud Tebo akan melakukan Marger sekolah tinggal satu lagi. Namun, Dikbud masih menunggu persetujuan dari Bupati.

Terkait wacana tersebut, Kabid Dikdas Khairul Akmal, saat dikonfirmasi mengatakan bahwa pihaknya sudah menyampaikan wacana tersebut ke Komisis 1 DPRD Tebo, bahkan ke menteri pendidikan juga disampaikan.

"DPR dan Pusat sudah dikasih tau, dan mereka juga sudah menyetujui wacana Dikbud Tebo untuk Merger sekolah, tapi kita masih menunggu persetujuan Bupati lagi," terang Khairul, selasa (13/02).

Menurut Khairul, wacana Merger sekolah ini dilakukan karena berbagai pertimbangan, yaitu terkait anggaran, standar nasional penerimaan BOS, serta kekurangan guru PNS.

"Itu lah alasan Dikbud untuk melakukan Merger sekolah," teranganya.

Saat ditanya terkait gedung sekolah yang di Merger, Khairul mengungkapkan bahwa gedung itu nanti akan digunakan untuk kegiatan desa. "nanti kita akan bekerjasama dengan pihak desa, jika mereka membutuhkan gedung itu akan kita pinjam pakaikan," pungkas Khairul.

Sementara, informasi dilapangan menyebutkan bahwa ada sebagian warga yang menolak di lakukan merger jika sekolah yang di tunjuk sebagai tempat belajar anak anaknya jarak tempuhnya lebih jauh.

"informasi yang kami dapat di desa ini, gedung sekolah yang bakal digunakan nanti jauh dari lingkungan warga. Jika itu terjadi kami terus terang menolak, " ungkap salah satu orang tua wali murid, yang tidak mau namanya di publikasikan.

"Saya meminta agar Dikbud lebih mengetahui kondisi sekolah yang ada di desa," pungkasnya. (crew)