Pengelola Rumah Pintar Tebo Dinilai Tak Profesional & Cuek

TEBOONLINE.COM, MUARATEBO - Rumah Pintar (Rupin) Tebo yang dikelolah pihak Dinas
Dikbudpora Kabupaten Tebo menuai kecaman dan keluhan dari pihak orang tua anak.

Pasalnya, pengelolaan Rupin yang digunakan sebagai Tempat Pendidikan Anak (TPA) tersebut dinilai
tidak profesional dan asal-asalan.

Bahkan belakangan muncul isu jika Rupin sengaja diciptakan untuk mengeruk keuntungan pihak tertentu.

Wajar saja sejak berdiri dari tahun 2014 hingga sekarang keberadaan Rupin belum menunjukan perbaikan yang signifikan.

Program yang ditawarkanpun terkesan kamuflase dan hanya jalan ditempat. Entah disengaja ataupun tidak, jelas keberadaan Rupin tidak diketahui banyak orang seperti layaknya TPA.

Dede, salah satu orang tua anak kepada awak media mengungkapkan keluhan dan rasa kecewanya sejak putrinya dititipkan di Rupin. Pasalnya, tidak ada perubahan yang ia lihat pada diri putrinya. Bahkan ia heran akhir-akhir ini putrinya takut dan selalu menangis jika akan dititipkan di Rupin.

"Saya heran padahal (Rupin'red) ini sudah lama berdiri, tapi kok sampai sekarang tidak ada kemajuan yang positif. Jangankan untuk memajukannya, merubah fungsinya saja masih belum terlihat," ucapnya kesal.

Harusnya kata dia, jika serius ingin memajukan Rupin ya perlu pembenahan yang total. Mulai dari peningkatan SDM, peningkatan pelayanan, properti, serta promosi.

"saya lihat pengurusnya tidak ada yang tergerak untuk memajukan, malah sebaliknya terkesan cuek," paparnya lagi.

Jika yang Dede contohkan tadi berjalan dan sudah teraplikasi, ia yakin bukan tidak mungkin keberadaan Rupin semakin banyak diketahui orang. Tidak sedikit pula para orang tua anak yang menitipkan putra dan putrinya.

"Tapi kalau modelnya kayak gini terus, gimana mau maju. Orang tua juga pasti malas menitipkan anaknya," sebutnya.

"Anak saya itu hobinya bermain, kalau lingkungannya ramai pasti anak saya betah. Nah ini sepi gimana anak mau betah," timpalnya lagi.

Yang lebih kesalnya lagi ketika bergantinya tahun ajaran baru bertepatan dengan libur panjang anak sekolah, ternyata Rupinpun ikut libur. Ia heran dan dan bertanya - tanya sebenarnya status Rupin ini apa.

"TPA atau sekolahan. Kalau Rupin itu sekolah yang punya agenda seperti dunia pendidikan saya sih tidak masalah. Lah ini TPA kok ikutan libur," terangnya lagi.

Iapun curiga dan menduga sudah banyak terjadi praktek - praktek korupsi didalamnya. Untuk itu ia meminta pihak instansi terkait dan pemangku kepentingan baik penegak hukum atau lainnya untuk turun kelapangan melakukan kroscek.

"Saya minta instansi terkait lakukan kroscek, ada apa dengan Rupin ini," pungkasnya.

Sementara, kekesalan lainnya juga disampaikan oleh salah seorang tenaga kontrak Rupin yang namanya juga enggan dipublish. Ia menilai selama ini ada ketimpangan dalam hal pembagian hak terhadap dirinya dan tenaga kontrak lainnya.

Sejak mulai berdirinya Rupin hingga kini dirinya belum merasakan adanya kenaikan honor. Padahal jika dilihat dari latar belakang pendidikan dan totalitasnya dalam bekerja tidak perlu diragukan. Sementara, tenaga yang lain kata dia baik itu pengurus ataupun kontrak upah yang diterima terus
naik.

"Mereka kerjanya dak ada, cuma makan gaji buta be. Jarang ada di Rupin tapi tiap bulan begaji juga," ucapnya kesal. (crew)

Related News