Profesi Boleh Serabutan, Tapi Didikan Luar Biasa

Penulis : 
Ice Nopianti
"Penulis adalah seorang PNS yang bertempat tinggal desa Teluk Kuali Kecamatan Tebo Ulu."

Masih teringat perjuangan ayah dan mak menyekolahkan kami. Ayah hampir menyerah mengirimkan uang setiap bulan. Aku dan tiga kakakku juga sekolah jauh dari rumah. Abangku yang tertua kuliah di UPI Bandung, kakak perempuanku di Kebidanan, Padang dan abangku yang satu lagi sedang mondok di pesantren Riau. Sejak tamat SD aku melanjutkan sekolah ke kota Padang Panjang. Setamat dari SMA Unggul Sumatera Barat, aku melanjutkan studi Hubungan Internasional di UNPAD Bandung dengan biaya ditanggung oleh Pertamina.
Ayah seorang petani karet dengan penghasilan pas-pasan. Namun tekad orang tua kami dan keinginan kami yang telah dididik dari kecil untuk gigih berjuang. Ayah juga pernah berjualan ikan keliling, penambal ban, dan terakhir ayah bekerja mendulang emas dengan mesin dompeng[1]. Namun sejak dompeng dilarang beroperasi ayah berhenti dan kembali menyadap karet. Mak pernah bercerita tentang beratnya perjuangan ayah ketika ayah menyadap karet di kebun di pinggir sungai Batanghari. Ketika ayah mengambil air dari sungai Batanghari, mata buaya-buaya sungai sudah mengintai ayah. Memang di sungai Batanghari cukup banyak buaya. Ada beberapa kali kejadian anak kecil yang digigit buaya. Membayangkan itu semua rasanya tak tega membiarkan ayah mempertaruhkan nyawa demi kami anak-anaknya.
Sebagai ibu, mak hanya mencicipi bangku sekolah sampai kelas 3 SD, namun mak jago dalam hal berhitung. Mak berjualan dengan berkeliling kampung menjajakan pakaian dan perlengkapan dapur kepada ibu-ibu, bahkan sampai ke kecamatan sebelah. Kadang mak terpaksa mengikhlaskan hutang ibu-ibu yang tidak sanggup membayar cicilannya. Mak juga membantu menyadap karet sampai pinggang mak lama sakit. Pulang dari menyadap karet, ayah sudah bisa langsung beristirahat, tapi mak harus memasak untuk makan malam. Mak selalu memastikan perut-perut tidak ada yang kelaparan. Masakan mak memang luar biasa enak. Kakak-kakakku yang sudah berkeluarga saja selalu menyempatkan untuk makan siang di rumah.
Pertengahan tahun 2014, purna sudah pengabdianku di Kabupaten Rote Ndao, aku sudah merencanakan banyak hal setelah ini. Dari para alumni Pengajar Muda (Sebutan untuk guru yang dikirim oleh Yayasan Indonesia Mengajar), aku mengetahui bahwa kami akan ditawarkan pekerjaan oleh beberapa perusahaan ketika Orientasi Pasca Penugasan (OPP) Indonesia Mengajar. Terutama perusahaan yang menjadi donatur utama Indonesia Mengajar.
Aku berencana magang di salah satu perusahaan yang menjadi donatur utama tersebut sambil mempersiapkan TOEFL untuk beasiswa S2-ku ke luar negeri. Sebelum dinyatakan lulus dalam seleksi terakhir Indonesia Mengajar, aku memang sudah mendapat Letter of Acceptance dari Newcastle University. Saat itu aku berpikir aku takkan mendapatkan kesempatan menjadi pengajar muda jika aku mengambil S2 terlebih dahulu.        
Tentang masa depan karierku sudahku rencanakan dengan baik. Aku yakin semua akan berjalan dengan baik pula. Selama OPP mak menelpon bahwa mak sudah tak sabar menunggu kepulanganku. Mak sudah menyiapkan makanan kesukaanku, dendeng rusa dan Tempoyak. Iya aku akan pulang ke Jambi sebentar. Setelah lebaran usai aku akan kembali ke Jakarta melanjutkan rencana-rencanaku.
Setelah terbang satu jam dari bandara Soekarno Hatta ke Soeltan Thaha, aku melanjutkan perjalanan dari kota Jambi ke dusunku, dengan menumpang travel selama lima jam untuk sampai di depan rumahku yang berpagar kayu. Mak dan ayah sudah menunggu di teras rumah dengan gurat bahagia. Aku mencium tangan mereka kali ini memang terasa berbeda, terutama jika teringat ucapan mak di telpon minggu lalu "ayah dan mak ingin kau tinggal di dusun, honor be di kantor sambil nunggu pembukaan CPNS." Saat itu aku tak mau berdebat nanti saja di rumah aku jelaskan rencanaku. Pendidikan orang tuaku memang hanya sampai sekolah dasar. Mereka  sejak kecil sampai sekarang tinggal di daerah. Yang mereka tahu PNS adalah pekerjaan yang paling menjanjikan.
Setelah sholat maghrib, kami makan bersama. Aku sangat merindukan masakan mak yang memang lebih enak dibandingkan dengan masakan ibu-ibu temanku yang lain. Di tengah makan malam aku bercerita tentang perpisahanku dengan keluarga angkatku di Rote, aku punya dua keluarga angkat disana. Ayah dan mak mendengarkan saja aku bercerita lalu tiba-tiba ayah melempar lauk dari piringnya ke piringku. Itu adalah kebiasaan ayah saat aku masih kecil. Ayah sering menyisakan lauknya untukku. Kadang kakak-kakakku iri. Dan kadang aku lempar lagi ke piring abangku yang nasi di piringnya masih menggunung.
"Kato Ayah, kau lah lamo merantau, lah saatnyo kau tinggal di rumah," mak menyampaikan pesan ayah. Ayah tak pernah menyampaikan langsung keinginannya tentang aku.  Ayah tetaplah ayah yang dulu, kaku. Tanpa berkata-kata, kami tahu kapan ayah marah hanya dari tatapannya.
Suatu hari aku diundang dalam seminar Hijab Traveller di Bandung. Aku dan temanku diminta bercerita tentang perjuangan kami memakai hijab di lingkungan minoritas. Ah, mungkin ini adalah jalanku kembali ke Jakarta. Tapi aku tak begitu yakin bisa meyakinkan ayah untuk mengizinkanku pergi.
Kali ini aku harus memberanikan diri bicara langsung dengan ayah tanpa perantara mak. Aku menuliskan poin-poin yang akan aku sampaikan kepada ayah agar ayah yakin bahwa kepergianku ini benar-benar sangat bermanfaat.
Aku tunggu ayah istirahat dan sholat ashar setelah pulang dari membersihkan kebun.
"Yah, Mak lah ngasih tau kan kalo aku diundang jadi pemateri seminar di Bandung?" aku memastikan kalau mak sudah memberi tahu garis besarnya.
"Iyo," ayah menjawab santai.
"Seminar ini jalan dakwah, Yah," amunisi pertama sudah aku keluarkan. Ayah biasanya mendukung dengan alasan ini.
"Di acara itu aku akan berbagi cerito tentang mempertahankan ajaran agama kito di tengah keterbatasan, kayak jago makanan dari yang haram dan najis." Aku semakin bersemangat menjelaskan. Ayah yang biasanya mengingatkanku tentang menjaga kehalalan karena ayah tak pernah memberi kami makanan yang dibeli dari uang yang subhat.
"Aku jugo nanti akan ketemu dengan Asma Nadia, penulis yang terkenal tu Yah, yang novelnyo diangkat jadi sinetron Catatan Hati Seorang Istri," ayah pasti tahu sinetron ini karena Mak penggemar sinetron.
Ayah menatapku sebentar, lalu dengan tenangnya ayah berkata, "pegilah."
Aku sudah menyiapkan berbagai amunisi untuk berargumen dengan ayah sore ini tapi tak banyak yang terpakai.
"Asal jago diri elok-elok, sholat jangan tinggal. Duit ado kan?"
"Yes!" aku bersorak dalam hati.
"Tiketnyo ditanggung panitia Yah." Aku menyenyumi ayah.
Dalam mendidik kami, ayah dan mak belajar untuk demokratis. Kami boleh menentukan apapun yang kami mau asal bermanfaat dan bertanggungjawab.
Aku langsung packing pakaian yang cukup karena aku berencana agak lama. Aku tak langsung memesan tiket pesawat, aku yakin tiket masih bisa dibeli besok pas sampai di bandara. Toh sekarang bukan musim libur. Malam ini aku harus menyelesaikan slides untuk materi seminar karena harus di-email terlebih dahulu ke panitia.
Aku sampai di Bandara Sultan Thaha, tepat pukul 12.45. Masih ada waktu untuk sholat zuhur, tapi aku harus segera ke boot ticketing terlebih dahulu. Aku memesan penerbangan pukul 14.35.
Ternyata tiket habis. Tapi aku masih ada harapan di penerbangan berikutnya. Sayang sekali tiket naik dua kali lipat. Aku tinggalkan nomor handphone-ku pada petugas penjual tiket, bisa jadi ada penumpang yang membatalkan penerbangan. Aku setengah berlari menuju boot ticketing pesawat yang lain. Semoga masih ada tiket dibawah enam ratus ribu karena itu budget maksimalku.
Betapa kecewanya aku mendengar semua harga tiket ke Jakarta yang tersisa diatas satu juta. Aku tak mungkin meminta uang kepada ayah yang memang tidak memiliki uang lebih. Meminta pada kakak-kakakku, akupun tak sanggup. Mereka sudah terlalu banyak membantuku.
"Setidaknya kamu sudah berusaha maksimal," aku coba menghibur diri.
Dengan langkah gontai aku menuju mushola. Mungkin ini tanda dari Yang Kuasa bahwa restu dan doa orang tua adalah segalanya. Aku belum mendapat restu untuk bekerja di Jakarta sedangkan aku sudah berniat melarikan diri.
"Astagfirullahaladzim," aku berulang kali beristigfar. Setelah sholat, aku segera mencarikan penggantiku sebagai narasumber seminar. Syukurlah ada teman yang kebetulan sedang ada di Bandung.
Sekarang ayah dan mak sudah lega karena aku dan dua kakakku sudah diterima menjadi PNS. Abangku yang pertama memilih untuk mengabdi dengan jalan menjadi kepala desa. Walaupun kenyataan berprofesi sebagai PNS di pemerintah daerah tak mudah kujalani, tapi aku mensyukurinya. Inilah baktiku untuk orang tuaku, keluarga, anak-anak didikku, juga untuk cita-cita mengabdikan diri pada daerah kelahiranku.
Saat mengetikkan cerita ini, ada yang menetes di pipiku. Namun usahaku menabung untuk memberangkatkan mak dan ayah naik haji tak pernah sebanding dengan air mata, keringat, dan darah yang orang tuaku korbankan untuk anak-anaknya. Terimakasih mak dan ayah atas cinta yang tak pernah padam. (IN)



[1]    Mesin pengangkat pasir yang digunakan untuk mendulang emas

Related News