Pilkades Serentak Kabupaten Tebo Diwarnai Saling Gugat

TEBOONLINE.COM, MUARATEBO - Tampaknya, pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak di Kabupaten Tebo yang digelar pada Sabtu kemarin (30/4), khususnya di wilayah Kecamatan Sumay mendapat pernyataan keberatan dari beberapa Calon Kepala Desa. Hal inipun telah dilaporkan ke Bupati Tebo dan Badan PMPD Tebo oleh cakades tersebut.

Diantara Cakades yang melakukan gugatan yaitu Dermawan SP yang merupakan Cakades Nomor urut 2, dimana menurutnya salah satu kandidat nomor urut 1 atas nama Raden Sopli diduga melakukan kecurangan untuk memperoleh suara terbanyak.

"Kecurangan yang dilakukan oleh Raden Sopli diantaranya melakukan money politik, juga melakukan kecurangan dengan membiayai beberapa mahasiswa yang kuliah di Jambi, ada 8 orang mahasiswa dari Jambi yang dibiayanya untuk memilih dirinya. Bukti dan saksi atas kecurangan ini sudah saya laporkan ke Bupati Tebo," kata Dermawan pada awak media, Senin (1/5).

Dibeberkannya juga bahwa bukti atas kecurangan yang dilakukan oleh Raden Sopli diantara uang sebesar Rp 120 ribu yang diduga untuk membeli suara, serta surat pernyataan dari dari dua Cakades yang menjelaskan kecurangan yang dilakukan oleh Raden Sopli.

"Surat pernyataan dari penerima uang juga ada. Begitu juga surat dukungan dari warga yang menolak hasil Pilkades ini," kata dia lagi.

Untuk itu, Darmawan minta kepada Sukandar Bupati Tebo agar segera memproses atas dugaan kecurangan yang dilakukan oleh Raden Sopli tersebut.

"Kita bukan tidak terima dengan hasil Pilkades ini. Tapi kita ingin Pilkades ini dilaksanakan benar-benar jujur tanpa menyalahi aturan," tuntasnya.

Sementara itu, satu-satunya Cakades Perempuan yang ikut Pilkades serentak di Tebo, Mardiana juga melakukan pernyataan keberatan atas ceramah yang disampaikan penceramah pada acara isra' Mi'raj tanggal 29 April 2016 yang dinilai memuat nuansa politik.

"Saya terima kekalahan saya, tapi karena tim saya di ejek oleh tim yang menang, maka saya ajukan keberatan, apalagi tim saya mendapati ceramah isra' mi'raj dilakukan pada hari tenang dengan nuansa politik," ujar Mardiana.

Selain itu, ia juga membeberkan bahwa saat ini timnya telah memegang bukti rekaman penceramah yang berindikasi membedakan antara laki-laki dan perempuan, dimana perempuan harus dirumah saja mengurus rumah tangga.

"Saya dapat laporan dari tim, rekamannya ada, dalam ceramah itu penceramah membeberkan bahwa seakan-akan perempuan itu harus dirumah saja ngurusin keluarga, selain itu ia juga menyebutkan memilih nomor 4,1, dan 3, sedangkan nomor dua tidak disebutkan. Saya minta ini di usut, dan jika
terbukti menyalahi bila perlu dilakukan pilkades ulang," tegas Cakades nomor 2 ini.

Sementara itu, Sekretaris Badan PMPD Tebo, Suyadi dikonfirmasi dikantornya mengatakan bahwa terkait laporan ini perlu melewati beberapa tahap, yaitu yang pertama pelaporan ke BPD setelah Hari H, kemudian diproses BPD 3, Ketika Di BPD tidak selesai laporkan ke BPMPD, kemudian di BPMPD diserahkan ke Camat, di kecamatan baru diselesaikan.

"Untuk melaporkan hal ini, laporkan ke BPD dulu, nanti baru ke kami, dari kami nanti baru ke kecamatan untuk diselesaikan, ikuti saja prosesnya," pungkasnya. (crew)

Related News