Thursday, April 28, 2016

Ilustrasi

"Agus Sunaryo: Produksi dan Luas Tanam Ikut Meningkat."

TEBOONLINE.COM, MUARATEBO - Petani karet di Tebo mendapatkan angin segar, pasalnya setelah anjloknya harga karet untuk waktu yang cukup lama, dalam seminggu terakhir menunjukan grafik peningkatan harga yang signifikan.

Hal ini diungkapkan salah satu petani yang bernama Mukti, petani asal Desa Rantau Langkap Kecamatan Tebo Ulu ini sangat bersyukur dengan naiknya harga komoditas andalan masyarakat Jambi ini.

"Terakhir saya jual ke toke karet harganya sudah Rp 8.000, bahkan harga karet ini menurut kabar bisa lebih tinggi lagi harganya dipelelangan karet," katanya, Kamis (28/04) pada Teboonline.com.

Hal yang sama juga diungkapkan Topik, seorang petani karet yang sudah lima belas tahun menekuni pekerjaan ini mengatakan jika dirinya sangat bersyukur dengan mulai naiknya harga karet.

"Walaupun naik harganya tidak terlalu tinggi, namun kami sangat bersyukur, kalau biasanya perkilonya Rp 6.000, sekarang sudah bisa terjual dengan harga Rp 8.000 bahkan ada juga yang Rp 10.000," ucapnya.

Peningkatan harga jual karet tersebut seiring dengan meningkatnya produk domestik regional bruto (PDRB) pada subsektor perkebunan. Dimana kabupaten Tebo masih didominasi oleh perkebunan karet dan kelapa sawit yang dikelolah masyarakat ataupun perusahaan.

Kepala Bappeda Tebo, Agus Sunaryo menerangkan, peningkatan subsektor perkebunan dapat terlihat dari peningkatan produksi dan luas tanamnya.

"Kalau karet ada peningkatan produksi dari 4c.886 ton pada 2014 naik menjadi 50.418 ton pada 2015," bebernya meyakini.

"Sementara, untuk sawit produksinya naik dari 141.495 ton pada 2014 jadi 143.336 ton pada 2015," tuntasnya. (crew/us)