Friday, December 4, 2015

Pembeli saat melihat barang dagangan disalah satu toko di pasar Sarinah.

TEBOONLINE.COM, RIMBOBUJANG - Persaingan bisnis dan pedagang pakaian di Pasar Sarinah Rimbo Bujang Kabupaten tebo semakin ketat. Tak hanya menjamurnya butik dan Distro di sejumlah ruas jalan, kini pedagang pakaian anak-anak dan dewasa mulai menjamur serta tak kunjung membaiknya perekonomian masyarakat imbas dari jatuhnya harga komoditi karet dan sawit. 

Hal ini pun membuat sejumlah pedagang terancam gulung tikar . Dari biasanya Rp 1-1,5 juta per hari, kini tinggal Rp 200 ribu-300 ribu per hari atau menurun kisaran Rp 700 ribu-800 ribu. Bahkan, ada yang sama sekali tidak memiliki pendapatan. Menurunnya omzet dagang tersebut telah dirasakan para pedagang pakaian sejak 1 tahun terakhir.

Uni En, salah seorang pedagang yang menjual pakaian mengaku saat ini pembeli pakaian masih minim alias pasar dingin.

“Iya, pembeli semakin sepi, sekarang banyak saingan dimana-mana, orang bisa menemukan penjual pakaian. Di Pasar mingguan, toko-toko dan butik serta distro sudah jualan pakaian,” kata Uni En pada Teboonline.com, Jumat (4/12).

Hal yang sama juga dikatakan Mak Itam, seoarang penjual berbagai bahan Kain hingga kain mori atau kain kasa di Pasar Sarinah.

”Penjualan masih sepi, paling banyak omzet yang kita peroleh hanya Kain Mori atau kain kasa, itu semua juga tergantung rezeki. Saya masih beruntung bisa dapat segitu, pedagang lainnya bahkan ada yang tidak laku jualannya,” ungkapnya.

Mereka mengaku, untuk dapat mempertahankan usahanya, tetap berupaya kreatif dalam menarik perhatian pembeli dengan cara langsung menawarkan barang dagangan ke calon pembeli atau menurunkan harga lebih murah dari pedagang lainnya. (santoz)