Di Tebo Angka Golput Tinggi, Kerja Panitia Pilkada Diduga Tidak Serius

TEBOONLINE.COM, MUARATEBO - Kejanggalan pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) mulai terlihat saat pemungutan suara berlangsung. Selain sepinya tempat pemungutan suara (TPS), diketahui masyarakat Tebo ada yang Golput dan banyak yang tidak mencoblos meski sudah termasuk dalam Daftar pemilih Tetap (DPT).

Hal itu terbukti dari pantauan Teboonline.com dilapangan, Semua jumlah DPT khusus Kabupaten Tebo diketahui ada sebanyak 235.782 suara. Namun suara sah yang didapatkan hanya sebanyak 141.421 suara.

Terkait hal ini, Salah satu warga Tebo yang enggan identitasnya dipublikasikan kepada Jambi Star menyebutkan bahwa beberapa KPPS pada pilkada yang dilakukan di wilayah Tebo saat ini sepertinya ada dugaan tidak serius karena hal tersebut sudah dapat dipastikan dari hasil kerjanya Yang molor. 

Surat undangan untuk melakukan pemilihan terhadap kepala daerah (C6) diberikan saat pemilihan sedang berlangsung sehingga banyak warga yang tidak mengetahui dan tidak mencoblos karena sudah pergi bekerja karena mengira bahwa dirinya tidak terdaftar dalam DPT.

"Gimana mau nyoblos, undangan dikasih saat pagi pas hari pelaksanaan pemungutan suara. Ya saya tidak tahu karena sudah berangkat kerja," kesalnya.

Dirinya menegaskan, seharusnya panitia pelaksana Pilkada harus Jeli dan mengerti aturan. Kalau seperti ini, wajar saja banyak yang tidak milih karena memang waktu yang ditentukan tidak dilaksanakan dengan baik oleh panitia.

"Setau saya surat undangan diberikan paling lambat 3 hari sebelum Hari H. Kalau sudah hari H baru dibagikan, ya begini hasilnya," tuturnya.

Terpisah, sumber terpecaya Teboonline.com inipun mengatakan terkait banyaknya masyarakat yang lebih memilih Golput dan tidak menggunakan suaranya untuk memilih paslon pada pilkada  untuk periode 2016 sampai 2021 menyebutkan bahwa selain dari permasalahan panitia yang diduga tidak mengerti peraturan pilkada, juga kurang maksimalnya kampanye yang dilakukan oleh masing-masing paslon karena kampanye yang dilakukan tidak merata.

"Bagaimana di Tebo mau maksimal hasil suaranya, Kampanye akbar dari kedua paslon dilakukan di Kecamatan yang bukan merupakan pusat dari Kabupaten Tebo, jadi wajar hasilnya seperti ini, banyak yang golput dan tidak menggunakan hak suaranya," ungkapnya.

Dijelaskannya, Hal itu terbukti dari banyaknya masyarakat Tebo yang bertanya dengan saya saat salah satu paslon melakukan kampanye Akbar, mengapa kampanye akbar dilakukan di kecamatan Rimbo Bujang, sedangkan Kota Tebo itukan berada di kecamatan Tebo Tengah. Atas pertanyaan itupun saya juga tidak mengetahui karena itu merupakan strategi dari masing-masing paslon.

"Banyaknya masyarakat yang tidak menggunakan suaranya diduga karena masyarakat belum mengenal karakter kedua paslon karena Tidak adanya kampanye yang dilakukan secara merata," tandasnya. (crew)

Related News