Thursday, November 19, 2015

Muhidi, seorang kakek korban Minah Oplosan meninggal dunia.
TEBOONLINE.COM, RIMBOBUJANG – Minyak tanah yang diduga berasal dari Bayung Sumsel atau lebih dikenal masyarakat Minyak bayung kembali memakan korban. 

Korban kali ini, Muhidi (70) warga Jalan Marsawa Desa Tirta Kencana Kecamatan Rimbo Bujang, meninggal dunia secara mengenaskan dengan luka bakar disekujur tubuh.

Dari informasi yang dihimpun Teboonline.com dilapangan, Pada Kamis pekan lalu (12/11) sekira Pukul 19.00 Wib dijalan Warsawa terjadi pemadaman listrik, karena tidak memiliki Genset, korban berupaya menghidupkan lampu teplok.

Naas, saat korban menghidupkan lampu teplok lalu mencoba menambah minyak, seketika itu juga api begitu cepat langsung menyambar galon minyak, tak ayal api juga langsung menyambar sarung korban. Korban Sempat dirawat di Rumah Sakit selama 2 hari, namun dengan luka bakar disekujur tubuh, nyawa korban tidak dapat tertolong.

Menurut Penuturan Warga yang tak jauh dari rumah korban, pada saat kejadian warga sedang melaksanakan Sholat Isya di Mushola dekat rumah korban, mendengar adanya suara ledakan dari rumah korban, seketika warga yang sedang khusuk melaksanakan Sholat berhamburan keluar menuju rumah korban.

JN, sang pemilik warung kecil penjual Minyak tanah saat dikonfirmasi Teboonline.com mengatakan dirinya tidak mengetahui asal-usul minyak tanah tersebut dan mengaku membeli dari seorang agen di Simpang Jalan Durian Desa Tirta Kencana berinisial MY.

"Benar, Korban membeli di warung saya, tapi saya taunya ya itu Mitan biasa dan saya beli dari mas  MY yang ada di Simpang jalan durian," ujarnya.

Diungkapkan JN, dirinya juga merasa bersalah kepada keluarga korban dengan adanya insiden tersebut, namun dirinya juga merasa jadi korban karena betul-betul tidak mengetahui jenis minyak tanah yang dibelinya.

"Kami sekeluarga merasa ngga enak dengan keluarga korban apalagi terhitung masih sodara," ungkapnya.

Untuk itu, imbuh JN, dirinya berharap kepada pihak berwajib untuk mengusut tuntas peredaran minyak tanah tersebut agar tidak ada lagi korban berikutnya yang tentunya berimbas pada warung-warung kecil karena merasa dibohongi.

"Kami berharap pihak berwajib dapat menghentikan peredaran Mitan tersebut, selain merugikan warga, kami pemilik warung-warung kecil juga merasa dibohongi" tukasnya.

Perlu diketahui juga, dari catatan Teboonline.com, selama 1 tahun terahir untuk Kecamatan Rimbo Bujang saja ada 3 Korban meninggal dunia akibat minyak tanah yang diduga minyak bayung. (santoz)