Sunday, September 20, 2015

TEBOONLINE.COM, RIMBOULU - SDN No 81/VIII yang dipimpin oleh  Buchari.A.Ma.pd  sudah meresahkan Wali murid, pasalnya sudah berlangsung cukup lama pihak sekolahan tersebut mengkomersilkan atau menjual belikan Buku pelajaran terhadap siswanya, mulai dari kelas II sampai dengan kelas VI.

Sehingga, para wali murid terlalu berat untuk mengeluarkan biaya anak sekolahnya, apa lagi saat ini harga getah karet mengalami kemerosotan yang tajam dan pada umumnya para wali murid tersebut merupakan petani karet.        

Terungkapnya dugaan jual beli buku pelajaran di SDN 81/VIII dari pernyataan salah seorang wali murid kelas III, Wati  (45) kepada Teboonline.com. wali murid ini mengatakan, bahwa menurut pengakuannya selaku wali murid sangat berat setiap buku pelajaran harus dibebankan oleh para wali murid.

"Kami benar-benar merasa keberatan buku pelajaran dibebankan kepada kami, kami harus membayar buku pelajaran sebesar Rp 70 ribu hingga Rp 90 ribu lebih, sementara ekonomi saat ini sungguh memprihatinkan," ungkap Wati, dengan nada memelas sambil mengakui bahwa sebagai wali murid, terima tidak terima dan mau tidak mau akhirnya harus mengikuti apapun keputusan sekolah demi anaknya sekolah di SD tersebut.                

Sementara itu, Yusuf salah seorang guru di SDN 81/VIII dikonfirmasi mengatakan, membenarkan pihaknya menjual buku pelajaran kepada siswanya atas dasar tidak ada paksaan atau senang sama senang.

"Nyatanya sampai sekarang ini para wali murid tidak ada yang komplain atau memprotes pihak sekolahan," jelas Yusuf.SPd, yang nota bene wakil Kepsek, pada Teboonline.com baru - baru ini.                  

Kepala UPTD Dikbudpora Rimbo Ulu, Haidir dikonfirmasi mengatakan, pihaknya baru mendengar adanya SDN diwilayahnya yang menjual belikan buku pelajaran. "Kalau memang benar ada sekolahan SDN yang menjual belikan buku pelajaran kepada siswanya, akan kita tindak tegas," tandas Kepala UPTD Haidir.SPd.
            
Untuk diketahui menurut Permendikbud No 2 tahun 2008, tidak dibenarkan pihak sekolahan menjual belikan buku pelajaran  terhadap siswanya. Mirisnya lagi, kebiasaan buruk pintu gerbang SDN 81/VIII sejak dipimpin Buhari tidak pernah dibuka, bahkan para murid keluar dan masuk disekolahan tersebut melalui pintu belakang atau pintu pintas disekolahan tersebut. Kebijakan Kepsek  tidak jelas dengan menutup pintu gerbang sekolahan tersebut. (asa)