Adat Gemeenschappen (Marga's) Di Kabupaten Tebo

Oleh : Slamet Setya Budi
Salah satu poto di arsip sejarah, Belanda memperluas wilayah perdagangan di Indonesia.


Menelusuri, jejak peninggalan zaman Belanda di Kabupaten Tebo tidak akan  pernah ada habisnya. Dimana selama 350 tahun Belanda Menjajah Indonesia tentunya bukanlah waktu yang cukup singkat jika hanya ditelusuri sejarahnya dalam waktu 2 - 3 tahun.

Belanda datang ke Jambi pada tahun 1615, yakni pada masa pemerintahan Sultan Abdul Kadar. Upaya Belanda untuk menguasai perdagangan di Jambi, terutama lada, yang sebelumnya dikuasai pedagang - pedagang Cina, baru berhasil setelah Belanda dengan licik dapat mengangkat Pangeran Cakra Negara menjadi Raja dengan gelar Sultan Kiai Gede (1696-1725).

Perpecahan tidak terelakan lagi sehingga wilayah Jambi terpecah menjadi dua wilayah yaitu Kesultanan Jambi Ulu dengan Sultannya Raden Jaelat bergelar Sri Maharaja Batu ,sedang adiknya diangkat menjadi Pangeran Ratu atau Wakil Raja, berkedudukan di Mangunjayo (Muara Tebo).

Sedangkan, Kesultanan Jambi Ilir yang dipimpin oleh Pangeran Cakra Negara (Kiai Gede) yang didukung oleh Pemerintah Hindia Belanda dan berkedudukan di Tanah Pilih.

Disamping itu, Masa pemerintahan Kesultanan Jambi Ulu berlangsung sekitar 30 tahun. Kemudian bersatu kembali dengan Kesultanan Jambi Ilir di bawah kekuasaan Sultan Suto Ingologo (1730-1770).

Produk warisan Kolonial Belanda, masih dapat dirasakan sampai saat ini. Sejarah Kabupaten Tebo tidak terlepas dari sejarah Propinsi Jambi, karena  Kabupaten Tebo termasuk wilayah administratif Propinsi Jambi. Namun demikian karena sejarah adalah gambaran masa lalu, maka jangkauannya tidak hanya terbatas pada wilayah administratif, tapi bisa juga melewati batas-batas tertentu. Karena garis administrative baru tidak berlaku sama pada sejarah kebudayaan termasuk di Kabupaten Tebo dimasa lampau.

Bersumber pada Peta Kaart Midden -Sumatra door D.D. Veth, 1882, Peta Geologisch schetskaartje van het zuidelijkste deel van de Residentie Padangsche bovenlanden en schetskaartje van het noordwestelijke deel van de Residentie Palembang, dan Peta Deel der Djambi rivier en hare zijtakken yang dapat dilihat di situs knag-expedities.nl dengan jelas
menunjukan lingkungan adat Residentie Djambi yang berada di wilayah Sumatera Tengah.

Residentie Djambi sebelah selatan berbatasan langsung dengan Palembang Residentie (Sumsel), Dibagian barat daya berbatasan dengan Residentie Benkoelen (Bengkulu), sebelah barat berbatasan dengan Residentie Sumatra's weestkust (Sumatra Barat), dan Sebelah Utara berbatasan dengan Residentie Riouw En Onderhoorigheden (Riau) sementara sebelah timur berbatasan dengan Straat Berhala (Selat Berhala).

Pada masa Pemerintahan Kolonial belanda, Belanda lalu membentuk wilayah - wilayah administrasi atau disebut Margo. Dalam mengatur dan mengelola wilayah hukum adat, batas-batas Margo biasa dikenal dengan ”Tambo”. Tambo dituturkan secara turun temurun untuk mengidentifikasikan dan menentukan batas-batas Margo. Batas-batas margo biasanya ditandai dengan batas alam seperti : Ulu Pedasan, Bulian Di Sungai Rambutan, Sungai Banan Disimpang Kaman, Danau Puput Nan Keling, Danau Pauh Angit tandanya ada Bulian, Sungai Antu, Taman Ulu Sungai Antu, Ulu Sungai Kayu Kundur, Pisang Emas Ulu Sitinjau itulah Batas Antara Manggatal dan Belimbing (sekarang pecah menjadi Desa Semambu, Desa Muara Sekalo dan Desa Suo - Suo).

Margo di Kabupaten Tebo Jejak wilayah adat (Margo) tersebut masih dapat kita ikuti sampai sekarang, namun seiring berkembangnya wilayah maka jejak tersebut berbeda dengan zaman dahulunya. Wilayah Margo di Kabupaten Tebo, terbagi menjadi enam walaupun dahulunya Kabupaten Tebo masih menyatu dengan Kabupaten Bungo namun hasil ini diambil setelah adanya Pemekaran Wilayah Kabupaten Bungo Tebo sesuai dengan Surat Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jambi Nomor 135/2465/Pem Tahun 1999 tentang
memprogramkan Rencana Pemekaran Wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II dan Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bungo Tebo Nomor 669 Tahun 1999 tentang Tim Pelaksanaan Penerapan Pembentukan Daerah Tingkat II Kabupaten Bungo Tebo. Hal yang sama didukung pula oleh DPRD Kabupaten Daerah Tingkat II Bungo Tebo Nomor 170/271/1999 tanggal 21 Mei 1999.

Perlu diketahui, bahwa Margo dipimpin oleh seorang Pasirah hal ini sesuai dengan Pola Kepemimpinan Dalam Masyarakat Adat Nan Ico Pakai Di Bumi Seentak Galah Serengkuh Dayung Kabupaten Tebo. Disamping itu, Wilayah Seperti Sumay, Rimbo Bujang, Muara Tabir, Serai Serumpun, Tebo Ulu, VII Koto Ilir Dsb merupakan sebuah wilayah yang sudah mengalami pergeseran atau pemekaran wilayah Administratif berbeda dengan dimasa Belanda.

Mengacu pada Peta Schetskaart Residentie Djambi Adat geemenschappen(Marga's) Schaal 1 : 750.000 tahun 1922 - 1930 yang sudah disesuaikan dengan wilayah Kabupaten Tebo sekarang maka dapat disimpulkan terdapat 6(enam) Marga yaitu Tabir - Hilir dengan Ibu Kota marga (Margahoofdplaatsen) berada di Bangko Pintas, lalu Marga Petadjen Hilir yang beribukota (Margahoofdplaatsen) di Soengai Bengkal, lalu Margo Petadjen Hoeloe beribu kota (Marga hoofdplaatsen) Soengai Keruh,lalu Marga Soemai beribukota (Margahoofdplaatsen) di Teluk Singkawang, lalu Marga IX Koto beribukota (Margahoofdplaatsen) di Teluk Kuali.Sedangkan marga VII Koto beribukota (Margahoofdplaatsen) di Sungai Abang. Sebuah fakta yang  sangat jelas dan menunjukan bahwa  pemekaran wilayah saat ini di Kabupaten Tebo masih berkaitan dengan Produk Belanda. Untuk itu perlu adanya pemahaman sejarah agar para generasi penerus tidak melupakan sejarah negerinya. ***


Related News