"JEJAK NEDERLANDSCH INDIE DI TEBO DARI KOIN"


Oleh : Slamet Setya Budi 
Sekretaris PMI Kabupaten Tebo
Koin Nederlandsch Indie
Jika kita membahas mengenai era Hindia Belanda di Indonesia maka yang terbayang adalah Penjajahan terhadap rakyat Indonesia selama 350 tahun. Perlawanan rakyat Indonesia terhadap Hindia belanda berlangsung dimana – mana tak terkecuali di Provinsi Jambi. 

Pada awal Pemerintahan Jambi era Kerajaan Melayu II sekitar tahun 1460 yang dipimpin oleh Datuk Paduko Berhalo Jambi mengalami perkembangan yang lebih baik. Namun, pada tahun 1560 an Belanda masuk ke Indonesia situasi berubah. 

Pada masa Pemerintahan Sultan Abdul Kahar sekitar tahun 1615, sebuah misi dagang Kompeni Belanda yang dipimpin oleh Abraham Strek mendirikan Loji dagang tetapi tidak mendapat izin dari Sultan, dan kemudian dibubarkan.

Sehingga, misi Dagang Kompeni Belanda gagal mendirikan Loji Dagang di Jambi. Seiring bertambahnya usia maka Sultan Abdul Kahar digantikan oleh putranya yang bernama Raden Penulis gelar Sultan Abdul Mahji atau disebut juga Sultan Ingologo pada tahun 1665.

Perjuangaan dan perlawanan Sultan Ingologo berlanjut, pada masa Pemerintahanya 1665 – 1690 seorang Kepala Kantor Kompeni Belanda yang bernama Syubranit terbunuh di Desa Gedung Tebakar, sehingga membakar amarah Belanda dan menangkap Sultan Ingologo lalu dibuang ke pulau Banda.

Perlawanan terhadap Belanda mencapai puncaknya ketika era kepemimpinan Pangeran Djajadiningrat (Pangeran Ratu) gelar Sultan Thaha Syaifudin tahun 1856 – 1904, namun pada suatu pertempuran di Betung Bedarah Kecamatan Muara Tabir Kabupaten Tebo tanggal 27 April 1904 Sultan Thaha gugur dan Keris Siginjai sebagai lambang kekuasaan Kerajaan Melayu Jambi dibawa oleh Belanda.

Tentunya, era penguasaan Belanda di Provinsi Jambi khususnya di Kabupaten Tebo dapat ditelusuri dari segi peninggalan. Penelusuran dari segi peninggalan mata uang era Nederlandsch Indie yang ditemukan di sekitar anak Sungai Batang Hari yaitu Batang Sumay dalam rangka penelitian yang dilaksanakan pada 06 – 08 Februari 2015.

Expansi Belanda tidak hanya menjarah kekayaan Indonesia tentunya juga dari segi mata uang. Dari temuan Koin maka dapat sedikit menjelaskan mengenai luasnya expansi Belanda. Sekedar penjelasan dari temuan tersebut penulis juga menemukan Koin Era Kesultanan Melayu Jambi yang dicetak tahun 1432 H, bersimbol Ayam Jago dan tertulis Arab Melayu yang berbunyi Tanah Malayu. Sehingga muncul dugaan bahwa Kesultanan Melayu Jambi tetap exsis walaupun Belanda menjajah Jambi.

Disini penulis akan menjelaskan mengenai temuan Koin Nederlandsch Indie dengan era Kepemimpinan Kesultanan Melayu Jambi. Koin tertua yang ditemukan bertuliskan Nederlandsch Indie dicetak pada tahun 1858 dengan nominal 2½ Cent. 

Pada tahun 1858 merupakan era kepemimpinan Sultan Bayang (Bajang). Untuk diketahui, peranan Belanda terhadap Raja – Raja di Jambi juga memiliki pengaruh, dimana Belanda dinobatkan Raja– Raja jambi, tetapi mereka tidak memiliki kekuasaan yang disebut Sultan Bayang. Namun, sejak tahun 1856 – 1904 rakyat Jambi mengakui kepemimpinan Sultan Thaha Syaifudin  (STS). 

Akhirnya pada tahun 1906 Kesultanan Jambi ditetapkan menjadi sebuah Keresidenan di bawah Pemerintah Hindia Belanda. Wilayah Kesultanan Jambi Ulu, yang sebelumnya dipimpin oleh Sultan Sri Maharaja Batu oleh Pemerintah Kolonial Belanda dijadikan sebuah wilayah yang disebut Adeeling. Dan mulai saat itu pelaksanaan Pemerintahan ditangani oleh seorang Controleur berkebangsaan Belanda.

Koin Nederlandsch Indie kedua yang ditemukan dicetak tahun 1920 dengan nominal 2½  Cent. Tahun 1920 Jambi sudah menjadi salah satu wilayah Pemerintahan Belanda yang dipimpin oleh H. L. C. Petri. Dibawah seorang Controuler/Residen dibawahnya dipimpin oleh Demang, Asisten Demang, Pasirah, Kepala Desa/Kepala Dusun/Kepala Kampung. 

Disamping itu, dengan rampungnya jalan darat dari Jawa ke Utara Sumatera di tahun 1922, kota Muara Tebo yang terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Hari itu semakin strategis. Karena di samping salah satu kota yang dilalui jalan darat ke berbagai kota di Sumatera dan Jawa, terdapat juga jalur angkutan sungai dari kota Jambi ke Muara Tebo, bahkan sampai ke Muara Bungo.

Sementara itu, Belanda menganjurkan penanaman karet yang saat itu memang sangat dibutuhkan dunia, harganya pun tinggi. Rakyat berlomba-lomba menanam karet, sehingga kemakmuran rakyat pun makin tinggi. Dengan demikian masyarakat dapat menyekolahkan anak-anak mereka keluar daerah. Dan sejalan dengan itu, kesadaran berbangsa dan bernegara kembali meruyak. Terutama timbulnya perjuangan terorganisasi di Jawa, seperti kebangkitan Budi Utomo dan berlangsungnya Sumpah Pemuda di tahun 1928.

Koin Nederlandsch Indie ketiga yang ditemukan dicetak tahun 1929 dengan nominal 1 Cent.  Pada tahun 1929 Pemerintahan Hindia belanda di Jambi dipimpin oleh seorang residen yang bernama J. R. F. Versohoor van Nosse. Sedangkan Koin Nederlandsch Indie terakhir yang ditemukan tahun 1937 dengan nominal 1 Cent. Pada tahun 1937 Residen Jambi dipimpin oleh M. J. Ruyschaver. Namun, sepertinya inilah koin terakhir yang dipakai oleh masyarakat di sekitar Sungai Batang Sumai sebelum era pendudukan Jepang di Kabupaten Tebo tahun 1942 - 1945.***

Related News