Diam-Diam, Sukandar Juga Pecinta Batu Akik

Bupati Tebo Sukandar saat bincang dengan warga di Lapak pengrajin Batu Akik
TEBOONLINE.COM, MUARATEBO - Demam batu akik yang terjadi hampir diseluruh Indonesia sepertinya terjadi juga di Kabupaten Tebo. 

Hal itu terbukti, para pengrajin dan penjual batu Akik terus bermunculan. Namun siapa sangka, Sukandar Bupati Tebo juga merupakan salah satu pengemar batu tersebut.

Senin malam (29/12) kemarin, Sukandar mengunjungi lapak salah satu pengrajin batu Akik di Kecamatan Tebo Tengah, tepatnya didepan kantor Pegadaian Tebo Tengah. 

Spontan saja, kunjungan Bupati yang hanya seorang diri tersebut menyedot perhatian pengunjung yang lain. Tidak itu saja, kehadiran Bupati secara mendadak tersebut juga menyedot perhatian pengendara maupun penguna jalan yang kebetulan melintas.

“ Cuma lihat-lihat saja. Kebetulan sambil mengantar anak belanja,” ujar Sukandar saat dikonfirmasi Wartawan tengah mencocokan salah satu cincin di Jari manisnya.

Saat ditanya berapa banyak batu akik yang sudah dikoleksinya, Sukandar mengaku tidak terlalu banyak. “Ada beberapa, tidak terlalu banyak. Kebanyakan dikasih orang,” tuturnya.

Iwan, pengrajin batu akik mengaku senang dan bangga jika lapaknya dikujungi orang nomor satu di Kabupaten Tebo. Dia berharap kunjungan tersebut membawa berkah terhadap usaha yang baru dirintisnya tersebut.

“ Tidak sangka, malam-malam didatangi Bupati. Saya terharu sekaligus bangga. Kita sebagai pengrajin batu akik tidak luput dari perhatian bupati,” katanya.

Iwan juga mengaku baru beberapa bulan menjalankan profesi sebagai pengrajin batu akik. Dia menjelaskan, jika dirinya mampu mengolah batu Akik biasa menjadi beragam aksesoris, seperti batu cincin, liontin dan sebagainya.

Hasil karya Iwan tergolong bagus, rapi, dan sedikit rumit sehingga menghasilkan nilai artistik tinggi. Tak jarang pesanan datang dari pejabat daerah, baik dari kalangan Polri maupun TNI.

Untuk mengolah batu akik, ia memasang tarif beragam, mulai dari Rp 30.000 hingga ratusan ribu rupiah, tergantung kerumitan dan bahan baku. "Saya biasanya mengerjakannya saja, sementara bahan baku dari konsumen. Ada juga dari kawan yang sengaja menitipkan bahan baku untuk dijual," kata dia.

Awalnya, Iwan tidak memiliki kemampuan mengolah bahan baku menjadi batu akik yang bernilai artistik tinggi. Namun, ia belajar secara otodidak. Menurut dia, sejak harga batu akik beranjak naik, bahan baku batu akik perlahan mulai susah didapat.

Namun, lanjut Iwan, sejak menggeluti kerajinan batu akik, dia mulai memberdayakan pemuda dilingkungan tempat ia tinggal dengan memberikan pelatihan secara otodidak. 

" Saya bercita-cita ingin menggali mengembangkan batu akik yang ada di Tebo. Dan kedepannya nanti menjadikan dusun ini sebagai daerah perajin batu akik agar para pemuda yang menganggur mendapatkan pekerjaan. Tentunya ini harus didukung pemerintah daerah. Karena kelemahan kita selaku perajin batu akik tradisional adalah akses pasar dan jaringan. Apalagi selama ini bahan baku kita datangkan rata-rata dari luar Tebo,” pungkasnya. (crew)

Related News