Guru Psikologi Dan Materi P4, Untuk Cetak Siswa Bermoralitas

SUKIMAN
TEBOONLINE.COM, RIMBOBUJANG - Menurunnya atau dekadensi moralitas dikalangan Siswa, diakibatkan kurangnya materi pendidikan moral Pancasila dan minimnya tenaga pendidik atau tenaga ahli fisikologi di sekolah, baik di tingkat SD, SLTP dan SLTA.

Sudah saatnya, kehadiran tenaga pendidik dibidang Psikologi di sekolah ditingkat dasar, menengah dan tingkat atas untuk menunjang Bimbingan Konseling (BK), dalam Proses pemberian bantuan (Process of helping_red) kepada individu siswa agar mampu memahami dan menerima diri dan lingkungannya, mengarahkan diri, dan menyesuaikan diri secara positif dan konstruktif terhadap tuntutan norma kehidupan agama dan budaya. Sehingga, mencapai kehidupan yang bermakna, baik secara personal  maupun sosial.  

Pengamat dan aktifis pendidikan, Kecamatan Rimbo Bujang, Sukiman mengatakan, menurutnya untuk mencetak siswa yang bermoralitas Pancasialis dibutuhkan tenaga pendidik khusus bidang fisikologi di sekolahan.

" Alasannya, tenaga pendidik ahli dibidang Psikologi akan dapat mengetahui karakteristik atau kejiwaan siswa. Sehingga, para siswa dapat diarahkan dan dibina menuju moralitas yang baik, dan pada gilirannya nanti siswa tidak terjerumus ketindakan amoral," ujar Sukiman, pada teboonline.com menjelaskan, Selasa (25/11).  

Ditambahkan oleh Sukiman, yang juga Ketua Yayasan Pendidikan Panca Karya Nusantara (YPPKN) Kecamatan Rimbo Bujang, menurutnya lagi materi pendidikan atau kurikulum Pendidikan Penghayatan Pengamalan Pancasila (P.4) sudah saatnya diterapkan kembali di sekolahan.

Dengan didasari P.4, para siswa  akan memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat, memiliki keterampilan belajar yang efektif,  keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan belajar dan mengamalkan nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME.

" Dengan semangat Hari Ulang Tahun  PGRI ke 69, sebagai anak bangsa yang berprofesi sebagai pendidik, mari kita implimentasikan sebagai suri tauladan  bagi siswa, baik di lingkungan sekolahan maupun di tengah masyarakat. Sehingga, anak didik atau siswa terkontaminasi moralitas yang baik," pungkasnya. (asa)                                   


Related News