50 Persen Pedagang Pasar Sarinah, Tak Bayar Retribusi

Bangunan Ruko di Pasar Sarinah
TEBOONLINE.COM, RIMBOBUJANG - Retribusi sewa kios atau toko di Pasar Sarinah Kelurahan Wirotho Agung, Kecanatan Rimbo Bujang, yang dikelola oleh Dinas Koperasi Perindustrian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar (DKPPP) Kabupaten Tebo, menurun drastis selama enam bulan terakhir ini. 

Menurunnya retribusi sewa kios dan toko, dipicu oleh kurangnya daya beli masyarakat ke pedagang. 

Sementara menurunnya daya beli masyarakat diakibatkan amburadul dan anjloknya harga getah karet di petani, yang berimbas melemahnya perekonomian disemua sektor.

Berdasarkan pendataan petugas pemungut retribusi DKPPP Rimbo Bujang, sebanyak 400 kios dan toko di kawasan pasar Sarinah yang terkover menjadi wajib retribusi. Namun, akibat melemahnya di sektor perdagangan, hanya 50 persen saja  penghuni kios dan toko yang berhasil ditagih membayar retribusi. 

Sedangkan yang 50 persen lagi penghuni kios dan toko (pedagang-red) tak membayar retribusi alias menjadi penunggak retribusi. 

" Benar, 50 persen pedagang penghuni kios dan toko dikawasan pasar Sarinah tak membayar retribusi dan menjadi penunggak retribusi," ungkap Hadi Sutrisno, petugas pemungut retribusi, pada Teboonline.com, Selasa (4/11).

Imbuh Hadi Sutrisno, besarnya retribusi sewa kios atau toko Rp 47.000 setiap bulannya. Sedangkan yang terdata ada 400 lebih kios dan toko di pasar Sarinah Wirotho Agung. Ada separoh penghuni kios dan toko menunggak retribusi sejak bulan Mei sampai dengan Oktober 2014.

" Tujuh bulan yang lalu, hasil penagihan retribusi mencapai Rp 6 juta sampai dengan Rp 7 juta setiap bulannya. Sejak enam bulan terakhir ini, hasil penagihan retribusi hanya mencapai Rp 3 juta sampai dengan Rp 4 juta saja setiap bulannya. Ya, mau bagaimana lagi, pedagang lagi lesu," ujar Hadi Sutrisno.

Bayu, salah seorang pedagang kain di pasar Sarinah mengatakan, membenarkan sejak tujuh bulan terakhir ini pedagang di pasar Sarinah mengeluh. Pasalnya, pengunjung pasar Sarinah sunyi, pembeli kadang ada kadang sama sekali kosong. 

" Kami tahu, retribusi untuk PAD, bukannya kami gak mau bayar retribusi, hasil jual beli kami hanya pas - pasan, bahkan tak pelak lagi kami temakan modal," keluhnya. (asa)

Related News