Monday, October 13, 2014

Ilustrasi
TEBOONLINE.COM, RIMBOULU - Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itu kata yang tepat untuk para petani karet di Kecamatan Rimbo Ulu. Pasalnya, mereka (Petani_red) semakin resah sehubungan terus menurunnya harga getah karet saat ini ditambah maraknya pencurian getah karet di perkebunan mereka belakangan ini.

Petani karet di Kecamatan Rimbo Ulu mengatakan, pencurian karet makin sering terjadi sejak harga karet mengalami penurunan beberapa bulan terakhir. 
Pencurian diduga dilakukan pada siang bolong, ketika para pemilik perkebunan tengah beristirahat, karena petani saat musim kemarau dan musim gugur daun (Trek Daun_red)) mulai berangkat menderes (Potong Karet_red) sekitar pukul 04.00 wib pagi selesai pukul 08.00 wib.

"Aksi pencuri itu berpindah-pindah lokasi dan dugaan kami maling tersebut beraksi siang hari karena jika musim kemarau dan gugur daun mayoritas petani berangkat sebelum subuh," kata saeful warga Desa wanareja kecamatan Rimbo Ulu kepada Teboonline.com, Senin (13/10).

Menurut Saeful lagi, pencuri itu biasanya menggasak  getah milik petani dipilih - pilih, hanya yang sudah penuh dalam Mangkuk.

“Pencuri sudah pintar, yang diambil hanya getah yang sudah penuh dalam Mangkuk,” ujarnya dengan nada kesal.

Hal senada juga dikatakan petani Jalan Flamboyan Desa Suka Damai, Sulistiono. Menurutnya, aksi pencurian yang sudah berkali-kali menimpa miliknya serta tetangga lainya justru sekarang pada saat harga getah turun drastis.

”Kami herannya kok getah karet sering hilang pada saat harga getah turun drastis seperti sekarang, padahal sewaktu harga mencapai Rp 12.000/kg aman-aman saja,” ungkapnya.

Ditambahkanya, dirinya mengaku mengalami kerugian antara Rp 400.000 hingga Rp 500.000 semalam akibat pencurian itu.

"Kalau hanya sekali tidak begitu terasa, namun jika berkali-berkali terjadi cukup merugikan, karena menyadap karet merupakan tumpuan utama keluarga kami. Oleh karena itu, pihak berwenang perlu mengatasinya," pungkasnya. (rto)