Warga Tebo Protes Program PKH

Warga SAD yang kondisinya memperihatinkan
TEBOONLINE.COM, MUARATEBO - Program Keluarga Harapan (PKH) merupakan program nasional gabungan dari lima Kementrian, yakni Kemensos, Kemenag, Kemendikbud, Kemenkes dan Kemendagri. 

Sedangkan yang berhak mendapat pelayanan PKH yakni orang yang tidak mampu, keluarga yang ada ibu hamil, anak balita atau anak sekolah maksimal SMP sederajat. 

Hal itu diungkapkan oleh Rahimah dari Kemensos RI Jakarta, saat menjadi narasumber pada pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bintek) program PKH tahun 2014, di Pondopo rumah dinas Bupati Tebo beberapa waktu yang lalu.

Ungkapan tentang program PKH tersebut mendapat kritikan dari masyarakat Tebo, terutama masyarakat miskin yang merasa tidak pernah meresakan atau mendapat program tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Soleh, Camat Tebo Tengah. 

“ Contohnya di wilayah saya Tebo Tengah, banyak orang miskin yang layak mendapatkan layanan PKH, namun dana yang digulirkan untuk orang miskin tersebut sangatlah terbatas sehingga saya mendapat kritikan dari orang miskin yang tidak menerima bantuan PKH tersebut,” kata Camat saat mengikuti Bintek kemarin.

Hal yang sama juga dikatakan oleh salah satu aktivis Tebo, Oktaviandi Mukhlis. Menurutnya, ada ratusan bahkan ribuan masyarakat Tebo yang tergolong miskin dan berhak mendapatkan program PKH itu. Sayangnya, tidak semua bahkan tidak sampai separah dari masyarakat Tebo yang menerima program nasional dari gabungan lima kementrian tersebut.

Bahkan, lanjut Andi sapaan Oktaviandi Mukhlis, program PKH yang digelontorkan pemerintah pusat ke daerah terkesan menjadi ajang proyek, seperti perumahan Komunitas Adat Terpencil (KAT) yang berada di Sungai Inuman Desa Muara Kilis Kecamatan Tengah Ilir, yang saat ini kondisinya tidak terawat dan banyak yang rusak. 

“ Rumah dibangun, tapi tidak dipikirkan lapangan pekerjaan untuk yang menempati rumah itu. Juga rumah yang dibangun ditengah-tengah kebun sawit, jaraknya hanya 5 meter dari pohon sawit. Ini kan tidak logis,” kata Andi.

Tidak itu saja, lanjut Andi lagi, tahun kemarin ada bantuan bibit itik atau bebek kepada kelompok Suku Anak Dalam (SAD) Muara Kilis, untuk dibudidayakan. Sementara, tidak satupun dari kelompok tersebut yang diarahkan atau diberi pengetahuan bagaimana cara beternak itik. 

“ Kan sudah tahu selama ini belum ada SAD yang beternak itik, kok tiba-tiba dapat bantuan bibit itik. Itupun tidak bersama kandang dan pakan. Juga, sebelum bibit datang tidak ada pengarahan atau pelatihan beternak itik kepada SAD. Jadi bantuan itu saya anggap sia-sia,” pungkasnya.

Untuk itu, Andi minta kepada pemerintah pusat dan intansi terkait yang akan menjalankan program PHK, agar program tersebut benar-benar tepat sasaran dan bermanfaat bagi masyarakat dan kemajuan Tebo. (peta)

Related News