Sunday, September 28, 2014

TEBOONLINE.COM, MUARATEBO - Sopir dan pemilik angkutan Batubara di Kecamatan Tebo ilir dan Kecamatan Tengah Ilir, yang biasa mengangkut Batubara milik perusahaan tambangan PT Winner Prima Sekata (WPS) yang beraktivitas di Kelurahan Sungai Bengkal Kecamatan Tebo Ilir, dan PT Daya Bambu Sejahtera (DBS) yang beraktivitas di Desa Mengupeh Kecamatan Tengah Ilir, mengancam akan mengadakan aksi demo untuk menghentikan Tronton atau Dam truk yang biasa mengangkut Batubara dari dua perusahaan tersebut.

Pasalnya, beberapa bulan terakhir PT WPS maupun PT DBS lebih mengutamakan tronton bermuatan rata rata 30 ton dari pekan baru untuk mengangkut hasil tambangnya, ketimbang memakai truk berkapasitas 10 ton (jinis PS) yang sopir maupun pemiliknya adalah putra daerah Tebo, khususnya Kecamatan Tebo Ilir dan Tengah Ilir.

"Akhir-akhir ini truk kami jarang narik (Digunakan perusahaan untuk angkut batubara_red). Narik dua minggu, liburnya lebih dari tiga minggu. Sedangkan Tronton yang muatannya tiga kali lipat dari muatan truk kami tiap hari narik, kalau seperti ini terus mau makan apa anak istri kami dirumah. Percuma  perusahaan ini berada di daerah kami kalau kami masih banyak nganggur ketimbang kerja," keluh 
Azin, salah satu sopir angkutan Batubara yang biasa mengangkut batubara di PT WPS, kepada Teboonline.com, Minggu (28/9).

Yang lebih membuat kesal, lanjut Azin, pihak perusahaan seolah-olah lebih mengutamakan angkutan Dam truk dari pada angkutan jenis PS yang secara material lebih menguntungkan perusahaan. Dia juga mengatakan, sebelum angkutan jenis Dam truk ada, boleh dikatakan angkutan jenis PS milik warga beraktivitas (Muat_red) setiap hari.

"Tapi sekarang beda, banyak liburnya dari pada muatnya. Kalau ditanya kapan boleh muat, macam-macam alasan yang dikemukakan oleh pihak perusahaan, mulai dari batu belum laku sampai kealasan ada kesalahan manajemen. Sementara, Dam truk muat dan narik terus. Seperti disengaja saja. Padahal kami kerja hanya untuk makan bukan untuk cari kaya. Mana janji pihak perusahaan yang ingin mensejahterakan putra daerah," ketus Azim lagi.

"Jika dalam minggu ini pihak perusahaan masih mengutamakan Dam truk dari pada ratusan angkutan milik warga, kami yang terdiri dari sopir dan pemilik angkutan beserta keluarga akan adakan aksi demo, dan menghadang setiap Dam truk yang memuat Batubara di daerah kami," ancam azim.

Hal yang sama juga dikeluhkan Mujadi dan warga lainnya. Dia mengaku, ada ratusan lebih kendaraan angkutan batubara milik warga yang mengangkut Batubara di PT WPS dan PT DBS, statusnya masih keridit. Yang lebih parahnya lagi, semenjak pihak perusahaan menggunakan angkutan Dam truk dan tidak lagi menggunakan angkutan milik warga, pemilik angkutan (Warga_red) merasa sangat kerepotan untuk mencari cicilan kendaraannya.

"Dari pada mobil kami nunggak dan ditarik Dialer, lebih baik  Dam truk itu kami hentikan. Bayangkan saja, 1 Dam truk muatannya sebanding dengan 3 mobil kita. Untuk perharinya paling sedikit 40 Dam truk yang muat. Perbandingan sama dengan 120 mobil kita atau 120 warga (Sopir_red) yang tidak bekerja," beber Mujadi.

Dia juga mengatakan, jika pihak perusahaan memang memikirkan warga sekitar ketimbang keuntungan, tentunya pihak perusahaan memilih angkutan milik warga. Selain membantu warga, resiko kerusakan jalan cenderung lebih kecil dari pada angkutan jenis Dam truk.

"Intinya, dalam hal ini kami selaku sopir dan pemilik truk minta kepada pihak perusahaan untuk lebih mengutamakan angkutan kami dari pada dam truk yang jelas-jelas sudah melanggar aturan," tegas Jumadi. (peta)