Petani Keluhkan Harga Sawit

Salah satu Pabrik Kelapa Sawit terlihat sepi paska
turunnya harga buah Sawit
 
TEBOONLINE.COM, MUARATEBO - Petani Kelapa Sawit di Kecamatan Serai Serumpun dan sekitarnya mengeluhkan turunnya harga sawit akhir-akhir ini. Sebaliknya, harga pupuk malah naik.

“Bagaimana kita dapat tenang dengan harga sawit yang sekarang ini menurun, sementara harga kebutuhan pokok kelapa sawit seperti harga pupuk malah naik,” ujar Junai, petani sawit Desa Pinang Belai Kecamtan Serai Serumpun, kepada Teboonline.com, Rabu (3/9).

Diakui Junai, terjadinya penurunan harga buah sawit tidak terlalu banyak, namun akan sangat dirasakan oleh petani sawit seperti dirinya yang hanya memiliki luas kebun sawit pas-pasan. 

“ Memang harganya turun tidak terlalu tajam, cuma Rp 100 perkilo. Tapi terasa juga. Apalagi kita memiliki luas kebun sawit hanya pas-pasan. Belum lagi direcoki dengan harga pupuk yang semakin lama semakin naik,” keluhnya.

Menurutnya, harga penjualan buah sawit sekarang berkisar Rp 1.525 perkilo, yang sebelumnya Rp 1.645 perkilo. Junai mengaku heran kenapa pupuk yang begitu dibutuhkan petani sawit ini harganya mengalami kenaikan, sementara pendapatan petani sawit diakuinya terus menurun. 

Turunnya harga sawit tersebut juga keluhkan dan dirasakan pemilik warung. Seperti yang diungkapkan oleh Doni dan Tono. Menurutnya, semenjak harga buah sawit turun, penghasilan dari jual beli barang harian warung mereka berkurang. “Biasanya ramai pembeli. Sudah beberapa hari ini semenjak harga sawit turun, pembeli jadi sepi,” ungkapnya.

Hal itu dibenarkan oleh Pahri, Kades Pinang Belai. Dikatakannya, turunnya harga sawit tidak saja dikeluhkan oleh petani, namun juga dikeluhkan oleh warga yang bukan petani. 

“ Dampak turunnya harga sawit dirasakan oleh semua warga. Lihat saja di pasar, biasanya pada hari pasar selalu ramai ibu-ibu yang belanja. Ini sudah beberapa minggu terlihat sepi. Begitu juga pedagang keliling yang biasa datang pada hari panen, sekarang sudah berkurang,”pungkasnya. (nug)


Related News