Disinyalir, Banyak Eksodus SAD Ke Tebo

Salah satu kelompok SAD yang ada di Kabupaten Tebo
TEBOONLINE.COM, MUARATEBO – Disinyalir, Kabupaten Tebo menjadi tempat tujuan eksodus Suku Anak Dalam (SAD) dari kabupaten lain, seperti Batanghari, Sarolangun, Bangko dan Merangin. Hal itu diungkapkan oleh Oktaviandi Muhklis salah satu aktivis juga pendamping SAD di Kabupaten Tebo.

Seperti di Desa Muara Kilis Kecamatan Tengah Ilir, jelas Andi sapaan Oktaviandi Muhklis, saat ini ada dua kelompok SAD yang hidup berdampingan. 

“Satu kelompok asli SAD Kilis (Tebo,red) yang dibawah pimpinan Temenggung Tupang Besak, satu kelompok lagi SAD dari Kabupaten Batanghari dibawah pimpinan Temenggung Lidah Pembangun atau yang lebih dikenal dengan kelompok Kejasung,” ujar Adi.

Menurut dia, ada beberapa factor yang menyebabkan Kabupaten Tebo menjadi tujuan eksodus kelompok SAD, diantaranya wilayah atau tempat asal mereka (SAD,red) tinggal sudah tidak aman lagi, karena tergusur oleh perusahaan yang membuka lahan perkebunan maupun pertambangan dengan skala besar, ditambah lagi dengan aksi perambahan hutan. 

“ Perambahan hutan serta luasnya areal konsesi perusahaan mengakibatkan ruang hidup mereka (SAD,red) semakin sempit. Akibatnya, mereka tidak bisa lagi mengandalkan hutan sebagai sumber kehidupan. Karena di Tebo dianggap masih aman dan masih bisa untuk dijadikan tempat bertahan hidup, makanya mereka pindah ke Tebo,” tutur Andi. Dia juga mengatakan jika Kabupaten Tebo merupakan salah satu wilayah sebaran SAD.

Lanjut Andi, keluguan sifat dan minimnya wawasan yang dimiliki membuat SAD sangat rentan untuk dimanfaatkan aktor-aktor perambahan hutan untuk menjual lahan, ilegal loging, memasukkan pendatang baru, atau bahkan memeras perusahaan atau warga yang dianggap melanggar adat mereka, atau memeras kendaraan milik perusahaan atau masyarakat dengan alasan diluar logika. 

“Kondisi tersebut tentu saja membuat perusahaan yang berinvestasi di Tebo maupun masyarakat, jadi terganggu,” tuturnya.

Selain itu, kata Andi lagi, kebutuhan masyarakat akan lahan perkebunan serta adanya aktor lokal atau desa yang turut bermain dengan kepentingan hutan dan lahan, mengakibatkan terjadinya gesekan-gesekan yang akhirnya berdampak pada konflik, seperti yang sering terjadi pada akhir-akhir ini.

“ SAD yang dulu begitu menjaga kearifan hutan serta memegang teguh adat dan kebudayaan mereka, akhirnya dirubah paksa oleh zaman, lalu pada akhirnya membuat keadaan mereka semakin marginal dan ekstrim,” tuturnya.

Agar tidak terjadi konflik yang berkepanjangan antara SAD dengan masyarakat mapun SAD dengan pihak perusahaan, serta untuk antisifasi terjadinya konflik susulan, Menurut Andi lagi, sebaiknya pemerintah daerah melakukan pendataan terhadap SAD yang ada di Kabupaten Tebo. Tidak itu saja, pemeritah juga harus mampu menciptakan program pemberdayaan terhadap SAD tersebut. “Dengan begitu, siapapun atau kelompok SAD mana pun yang masuk ke Tebo akan mudah terpantau,” tukasnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Sariman, Jenang kelompok SAD Makekal Desa Tanah Garo Kecamatan Tebo Ilir. Dijelaskannya, saat ada sekitar 700 jiwa kelompok SAD yang ada di Makekal, namun hanya sekitar 400 jiwa yang terdata. Menurut dia, sebelumnya SAD Makekal hidup berdampingan dengan masyarakat.

“ Selama ini tidak pernah terjadi konflik antar kelompok SAD dengan masyarakat. Yang buat ribut selama bukan warga SAD Makekal, tapi Warga SAD dari Singkut dan Sarolangun,” katanya.

Menurut Sariman, sebenarnya kelompok SAD asli Tebo masih bisa dan sangat mudah dibina. Dengan catatan, pemerintah daerah benar-benar melakukan pembinaan terhadap kelompok SAD tersebut.

” Jika SAD benar-benar dibina, kemungkinan terjadinya konflik sangat kecil bahkan tidak ada. Tapi kenyataan saat ini, malah banyak SAD yang membawa Kecepek (Senjata api rakitan,red), dan itu sepertinya sudah menjadi kebiasaan,” pungkasnya. (peta)


Related News