SAD Makekal Butuh Jalan Perkebunan

Awak Media poto bersama dengan SAD
TEBOONLINE.COM, MUARATEBO - Ribuan warga Suku Anak Dalam (SAD) Makekal Desa Tanah Garo dan Desa SPA Kecamatan Muara Tabir, butuh jalan perkebunan untuk mengangkut hasil kebun mereka. 

Pasalnya, jalan yang ada saat ini kondisinya masih jalan setapak tanah, dan jika hujan sama sekali tidak bisa dilalui. Akibatnya, warga tidak bisa mengeluarkan hasil kebunnya.

Hal itu diungkapkan oleh Udin, Depati SAD Makekal. Dijelaskannya, beberapa tahun yang lalu warganya sudah mulai menanam pohon karet. Saat ini, tanaman pohon karet tersebut sudah mulai menghasilkan. Diperkirakan luasannya lebih dari ribuan hektar. 

"Banyangkan saja, sangking luasnya kebun kami, sekali panen bisa menghasilkan getah sampai 500 ton. Itu baru wilayah Makekal Ulu dan Makekal Tengah, belum masuk wilayah Makekal Ilir," ungkap Depati Udin, Jumat (11/7).

Sayangnya, kata Depati, saat ini warganya kesulitan untuk mengeluarkan hasil kebun. Sebab, kondisi jalan saat ini masih jalan setapak tanah. Dan jika hujan, jalan tidak bisa dilalui karena rusak dan berlumpur. 

"Jangankan turun hujan, tidak hujan saja mengeluarkan getah harus dipikul. Berjam-jam jalan kaki mikul getah untuk sampai ke jalan bagus. Setelah itu baru bisa diangkut dengan motor untuk dijual ke toke," tuturnya.

Dikatakannya, jalan yang ditempuh warga SAD saat ini adalah jalan rintisan perusahaan kayu atau PT Intan. Sekarang, sudah bertahun-tahun perusahaan tersebut tidak beroperasi lagi, sehingga jalan sudah rusak dan ditumbuhi tanaman liar karena tidak terawat.

Dengan kondisi tersebut, Depati Udin berharap ada pengusaha karet atau intansi terkait yang mau berinvestasi ke Makekal denga cara membangun jalan sepanjang 30 Km. "Jika ada pengusaha yang mau bangun jalan, kami siap kerjasama. Setidak-tidaknya kami akan jual getah karet ke mereka. Yang jelas kami sangat butuh jalan untuk mengeluarkan hasil getah karet," tuturnya.

Saat ini, lanjut Depati Udin lagi, lebih dari 4.000 warga SAD yang tinggal dan menetap di Makekal. Dari 4.000 warga tersebut, rata-rata sudah memiliki kebun karet sendiri. Bahkan ada yang memiliki kebun lebih dari 100 hektar lebih dan sudah dipotong atau dideres (diambil getahnya,red). 

"Selama ini getah karet yang kami jual ke toke atau agen paling mahal seharga Rp. 6.000 perkilo. Kalo hasilnya selama ini cukup untuk hidup, tapi kalau sudah hujan, kami sangat kesulitan. Jadi kami benar-benar butuh jalan," tukasnya.


Lebih jauh dijelaskannya, jika ada perusahaan atau intansi yang mau berivestasi membangun jalan menuju perkebunan karet warga SAD, kami mulai dari Mengku, Depati hingga Temenggung, siap membantu dan memjamin keamanan atas investasi tersebut. Yang jelas apapun aktivitas perusahaan atau intansi yang mau berinvestasi akan kami jaga kemanannya. (gus)

Related News