Lagi, BPN Diduga Jadi Sarang Pungli

TEBOONLINE.COM, MUARATEBO- Banyaknya kutipan dana tak jelas peruntukannya atau pungutan liar (Pungli) yang terjadi pada Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Tebo, diduga tidak lepas dari keterlibatkan oknum orang dalam kantor pembuat Sertifikat tersebut. 

Begitu juga para oknum Kades yang mendapat jatah penerbitan Sertifikat Program Nasional Agraria (PRONA), bahkan para oknum lainnya yang seharusnya sertifikat PRONA itu diperuntukan bagi masyarakat miskin secara gratis tanpa pungutan biaya, malah menjadi ajang pungli bahkan website BPN Kabupaten Tebo pun sulit untuk diakses.

Kepala BPN Tebo Hasnadi melalui Sekretarisnya M.Yazid saat dikonfirmasi Teboonline.com mengatakan, terkait kutipan biaya tidak jelas atau pungli oknum Calo pembuatan Sertifikat Prona diakuinya agak sulit untuk menjelaskannya dan hal itu sudah menjadi rahasia umum. 

Mengingat banyaknya hubungan saling memandang satu sama lain kedekatan dan ini yang mengawali terjadinya upaya pungli, namun demikian  BPN akan berupaya untuk membenahinya dengan dimulai dari dalam untuk tidak memberi celah upaya terjadinya pungli secara berangsur angsur.

"Iya akan kita benahi secara berangsur angsur hal ini perlu kesabaran," ujar Yazid lagi.

Seperti telah diberitakan sebelumnya, Proyek Nasional Agraria pada Badan Pertanahan Nasional (BPN) merupakan program pemerintah pusat yang diperuntukkan kepada masyarakat tidak mampu secara gratis atau tidak dipungut biaya, kalaupun ada biaya yang dibebankan kepada masyarakat, adalah kewenangan pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat yaitu kelurahan masing-masing. 

Sebab sertifikat Prona ini, BPN berkoordinasi dengan pihak kelurahan/desa dan selanjutnya disampaikan kepada masyarakatnya yang dianggap berhak untuk mendapatkannya.

Namun demikian banyak para oknum diduga melakukan pungli atas pembuatan sertifikat Proyek Nasional Agraria, hal tersebut terjadi karena tidak adanya sosialisasi kepada masyarakat yang dilakukan oleh BPN Kabupaten Tebo jika pembuatan sertifikat Prona itu gratis atau tidak dipungut biaya, bahkan hal ini menjadi ladang basah bagi para oknum dengan modus tertentu. (ard)

Related News