Hamil di Luar Nikah Bukan Hanya dari Produk Ekses Budaya Barat (Seks Bebas) Melulu

TEBOONLINE.COM - Budaya kita memang masih dalam era budaya malu dan bukan budaya bersalah. Jepang itu budaya bersalah, negara barat juga budaya bersalah. Malu itu ada kaitannya dengan sosial. Rasa bersalah kaitannya lebih banyak pada moralitas diri sendiri. Dalam budaya malu, asal masyarakat sekitarnya oke-oke saja, maka tak perlu malu. Seperti korupsi saat ini. Kalau dilakukan berjamaah tak perlu malu. Kendati sudah benar-benar bersalah.

Hamil di luar nikah tak dikehendaki oleh manusia di manapun. Hamil adalah masalah serius bagi manusia di belahan bumi manapun. Melahirkan manusia baru, tanggungjawabnya besar. Hamil ya hamil. Apapun penyebabnya. Ia janin yang bakal jadi manusia. Manusia seperti kita-kita juga. Janin yang lahir tidak mempertanyakan apa dan kenapa ia lahir. Persis seperti kita juga. Kita lahir juga nggak tahu sebab-sebabnya. Kecil dan tak mengerti dunia sekitar. Kita nggak mungkin bisa bertanya. Kita lahir tidak kita saksikan sendiri.

Setiap manusia yang lahir adalah suci dan tanpa dosa. Seperti kita semua. Aib, haram, anak jadah dan sebagainya bukan hak seorang anak. Setiap anak istimewa dan tanpa dosa. Kita wajib menyambutnya. Ia juga manusia. Persis kayak kita. Tak lebih dan tak kurang. Apa yang membuat kita merasa bahwa kita paling suci ketika dilahirkan?

Membesarkan anak itu berat secara finansial maupun psikologis. Tapi namanya manusia, nafsu tetap ada. Bagaimanapun dikekangnya, pasti cari jalan pelepasnya. Diam-diam, sembunyi-sembunyi, jangan sampai ada orang tahu, biar tak dapat malu. Ada yang bersama pacar yang dicintainya. Atau kalau nggak punya pacar, dengan yang mau dibayar. Kalau sudah bosan dengan isteri atau nggak punya keduanya, diam-diam main dengan pembantunya. Siang manggil tuan, malam manggil mas.

Pokoknya nggak sampai hamil, nggak perlu malu. Apalagi bersalah. Kalau hamil, cari dalih agar tak ketahuan orang lain, maka aman-aman saja. Bertingkah biasa seolah tak terjadi apa-apa. Kalau perlu sering-sering kutip kitab suci biar tambah rapi nutupinya. Omongkan segala macam definisi moral, biar orang lain tak curiga. Ngomong nggak perlu modal saja kok repot. Tinggal buka mulut. Beres. Malamnya, diam-diam tetap ngeloni pembantunya. Kalau hamil, kembalikan ke desanya. Kasih uang secukupnya.

Dosa? Siapa yang tak punya dosa? Dirasionilkan saja. Asal orang lain nggak tahu. Kehidupan pribadi, hanya diri yang tahu. Dosa tetap dosa. Tapi manusia pinter berkelit dan cari alibi dalam ruang moralitas pribadinya.

Hamil harus nikah. Termasuk dengan pembantu yang dikeloninya. Atau perempuan yang diperkosanya. Perkara nanti isterinya sering ditempeleng atau disia-siakan bahkan disuruh melacur, nggak masalah. Anak harus dikasih makan. Yang penting sudah nikah. Perkara anak jadi sakit jiwa karena dibesarkan oleh orangtuanya yang sering main tempeleng, bukan masalah.

Manusia memang pelik. Laki-laki atau perempuan sama-sama punya nafsu konstan. Tapi perempuan yang sering jadi sasaran. Laki-lakinya sering lepas tangan. Apalagi kalau punya uang, kekuasaan atau hegemoni moral.

Sistem moral tak mengakomodasi moralitas yang menyimpang selain hukuman. Tapi manusia tak bisa selamanya lurus. Moralitas menyimpang ada di mana-mana. Sampah moralitas manusia melekat di baju kita. Kita tidak hidup di dunia ideal. Kita hidup di alam realita. Sampah moralitas kita pendam dalam-dalam. Semua nggak mau berkotor tangan. Gampangnya, dibuang saja ke laut. Beres. Dikucilkan saja, dikutuki saja, biar sampah itu tak mengganjal di mata. Kita tak tega melihat cermin buruk muka.

Kita harus berangkat dari budaya malu menuju budaya bersalah. Rasa malu diganti dengan rasa bersalah. Bukankah moralitas itu sebenarnya mengantisipasi perbuatan salah dan bukan perbuatan malu. Hukum menghakimi terdakwa karena terbukti bersalah dan bukan terbukti karena merasa malu? Apalagi yang malu-malu kucing. Orang Jepang kalau sudah ketahuan bersalah, ia berani perut sendiri dibelah. Tidak sembunyi di belakang petuah.

Hamil harus nikah? Hamil di luar nikah bukan dari produk ekses budaya barat yang seks bebas melulu. Tapi juga dari kecenderungan nafsu manusia yang kadang lepas dari kekangan moralitas. Putri hamil karena ulah bapaknya, harus nikah? Ibu yang hamil karena anak lelakinya, harus nikah? Sister yang hamil karena brother, harus nikah? Gadis sakit mental yang hamil karena tukang sampah, harus nikah?  Isteri yang dihamili tetangganya, harus nikah? 

Presiden yang menghamili wanita simpanannya harus nikah dan menceraikan isterinya yang syah? Anak SMP hamil karena teman se SMP, harus nikah? Pegawai negeri punya istri sakit parah kecelakaan menghamili pembantunya, harus nikah dan kehilangan sumber nafkah? Entahlah. Susah untuk main gebyah uyah.  Enaknya membayangkan jadi eyang Subur. Isteri bisa sembilan dan tak susah. Hamil semuanya tanpa rencana, anggap saja berkah.*** (HBS)


sumber : kompasiana 

Related News