Saturday, January 18, 2014

Tak hanya membunuh dua wanita penghibur yang disewanya, seorang mahasiswa juga bercinta dengan jenazah mereka. Itu dilakukan seorang mahasiswa Jilin University, sebut saja Lee, karena tertekan stres.

Seperti dilansir Daily Mail, Lee yang seorang mahasiswa desain mengaku gagal di banyak kelas. Ia kemudian menyewa wanita penghibur untuk meringankan beban pikirannya. Awal Maret 2013, ia menyewa wanita penghibur berusia 20 tahun bernama Cai.

Suatu pagi, Lee tiba-tiba terbersit untuk bercinta dengan mayat. Tak bisa menolak nafsu konyolnya, ia lantas menggantung Cai. Dari Changchun, Lee mengirim jenazah Cai ke rumahnya di Changpin. Di sanalah ia bercinta. Usai itu, ia memutilasi Cai dan memakamkannya di halaman rumah.

Lee tak hanya melakukannya sekali. Akhir bulan yang sama, ia melakukan tindakan serupa pada seorang wanita penghibur lain yang disewanya. Lee mengaku, selama ini ia memang kerap mendapat bisikan soal nekrofilia atau bercinta dengan mayat.

Psikiater forensik yang memeriksanya meyakinkan, Lee tidak mengalami gangguan jiwa. Ia pun harus mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum. Oleh pengadilan, ia lalu divonis hukuman mati. Lee juga dikenai denda sekitar Rp161 juta untuk keluarga korban.

Apa itu Nekrofilia?

Nekrofilia biasa disebut juga dengan thanatophilia atau necrolagnia. Itu merupakan kelainan hasrat dalam tubuh manusia karena tertarik untuk bercinta dengan tubuh orang meninggal.

Pertama kali, istilah itu muncul sekitar tahun 1850 dalam studi keilmuan. Menurut sejarah, yang pertama memunculkannya adalah Joseph Guislain, seorang ahli kejiwaan asal Belgia.

Penyebabnya beragam, dan kebanyakan dialami mereka yang trauma terhadap hal tertentu. Beberapa kondisi ini juga memengaruhi: takut ditolak pasangan, menginginkan pasangan yang tak bisa menolaknya, atau kekhawatiran untuk meninggal dunia.

JP Rosman dan PJ Resnick (1989) mengklasifikasikan penyebab nekrofilia berdasarkan persentase yang ditemukan dalam beberapa kasus nyata yakni 68 persen karena ingin pasangan yang tak bisa melawan, 21 persen didorong keinginan bersatu dengan pasangan yang telah meninggalkan, 15 persen karena daya tarik seksual dari mayat, 15 persen untuk alasan kenyamanan, dan 11 persen karena keinginan memperbaiki harga diri yang rendah dengan menerapkan kuasa penuh atas mayat.

sumber : addgue